Senin, 11 Maret 2019

Tata Cara Mandi Janabat


Mandi Janabat (Junub)
Oleh: Hanifah
            Pada surat al-Maidah ayat enam menjelaskan bahwa islam mewajibkan umatnya  untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri. Salah satu cara untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri adalah dengan mandi.
            Dalam islam terdapat istilah mandi janabat, yaitu cara untuk menghilangkan hadats besar dengan cara membasuh seluruh tubuh dengan air mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Jika hal ini tidak dilakukan oleh orang islam yang berhadats besar, maka ia akan mendapat dosa besar serta terhalang baginya melaksanakan ibadah yang bersifat taqarrub kepada Allah.
Tata Cara Mandi Janabat
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika hendak mandi janabat, Rasulullah (terlebih dahulu) membasuh kedua tangan, setelah itu wudhu seperti wudhu hendak sholat. Setelah itu menyela-nyela (air di) rambut dengan kedua tangan beliau, hingga setelah beliau mengira air telah mengenai pangkal rambut, beliau mengguyur air tiga kali. Setelah itu beliau membasuh seluruh tubuh.”[1]
Dari Maimunnah binti Harits, istri Nabi , ia berkata, “Aku meletakkan air untuk mandi jinabat untuk Rasulullah . Beliau kemudian memiringkan bejana dengan tangan kanan ke tangan kiri sebanyak dua atau tiga kali. Setelah itu beliau membasuh kemaluan, kemuadia mengusap tangan ke tanah atau tembok sebanyak dua atau tiga kali. Setelah itu berkumur dan memasukkan air ke hidung. Setelah itu membasuh wajah dan kedua lengan, kemudian mengguyur air ke kepala, lalu membasuh seluruh tubuh. Setelah itu beliau sedikit menjauh, kemudian membasuh kedua kaki. Aku kemudian memberi beliau handuk, namun beliau tidak mau (mengenakannya). Beliau mengibaskan (sisa-sisa) air dengan kedua tangan beliau.”[2]     
            Dari dua hadits diatas, dapat kita rinci sebagai berikut:
Tata cara mandi janabat menurut hadits Aisyah radhiallahu ‘anha[3]:
1.      Membasuh kedua tangan.
2.      Berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat.
3.      Memasukkan jari-jemari ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut dengan jari-jemari.
4.      Menyiramkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali cidukan.
5.      Menyiramkan air ke seluruh tubuh.
Tata cara mandi janabat menurut hadits Maimunah radhiallahu ‘anha[4]:
1.      Mencuci kedua tangan sebanyak dua atau tiga kali.
2.      Menuangkan air pada tangan kiri menggunakan tangan kanan.
3.      Mencuci kemaluan dengan tangan kiri.
4.      Menggosok tangan dengan tanah atau dinding.
5.      Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung.
6.      Membasuh wajah dengan kedua tangan.
7.      Membasuh kepala.
8.      Menyiramkan air ke seluruh tubuh.
9.      Berpindah ke tempat lain.
10.  Membasuh kedua kaki.
11.  Mengeringkan air dari tubuh dengan mengibaskan air dengan tangan.
            Terjadi perbedaan pada tata cara mandi janabat, antara hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallhu ‘anha dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah radhiallahu ‘anha yang in syaa Allah akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
Persamaan dan Perbedaan Tata Cara Mandi Janabat
            Tata cara mandi janabat antara hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dan hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha  memiliki kesamaan, yakni sama-sama di awali dengan membasuh kedua tangan. Namun pada hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha lebih menjelaskan tata cara secara mendetail, sedangkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha menjelaskannya secara global saja.
            Pada hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha membasuh kaki di akhirkan, sedangkan pada hadits Aisyah radhiallahu ‘anha membasuh kaki dibarengi dengan wudhu. Dan pada Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha tidak di jelaskan keterangan tertentu dalam membasuh tangan, sedangkan hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha menjelaskan membasuh tangan sebanyak dua sampai tiga kali.
            Dari Penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan perbedaan tata cara mandi janabat dari dua hadits yang diriwayatkan secara berbeda, diantaranya:
1.      Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha menjelaskan tata cara mandi janabat secara global, sedangkan hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha menjelaskannya secara terperinci.
2.      Pada Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha membasuh kaki dilakukan ketika berwudhu, sedangkan pada hadits Maimunnah radhiallhu ‘anha membasuh kaki dilakukan setelah mengguyur sekujur tubuh.
3.      Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha membasuh tangan di lakukan secara global, sedangkan pada hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha membasuh tangan dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
            Pada hadits Maimunah radhiallahu’anha menyebutkan, setelah membasuh kedua tangan, beliau membasuh kemaluan, setelah itu mengusap tangan ke tanah sebanyak dua atau tiga kali. Ulama menyebutkan, setelah digosok-gosok ke tanah atau di basuh lagi dengan air, bau kotoran yang masih menempel ditolerir.
            Dari tata cara yang di jelaskan di atas boleh mengambil salah satu dari keduanya, karena menjalankan tata cara yang terdapat pada salah satu hadits hukumnya adalah sunnah.[5] Dan ketentuan mandi janabat pada asalnya adalah niat dan membasuh seluruh tubuh.[6]
Berpindah Tempat Setelah Membasuh Sekujur Tubuh
            Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah berkata, ”Hadits ini (yaitu hadits Maimunah radhiallahu ‘anha) merupakan nash atau dalil atas bolehnya mengakhirkan pembasuhan kedua kaki dalam mandi berbeda dengan haditsnya Aisyah radhiyallahu ‘anha. Boleh jadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kedua perkara itu yaitu suatu waktu membasuh kedua kaki bersamaan dengan wudhu dan lain waktu mengakhirkan membasuh keduanya sampai akhir mandi.
            Dalam hadits Maimunnah radhiallahu ‘anha, beliau wudhu secara sempurna, namun beliau membasuh kedua kaki lagi setelah membasuh sekujur tubuh di tempat berbeda, karena tempat yang digunakan untuk mandi kotor.[7]
            Oleh karena itu ketika orang yang mandi janabat telah merasa cukup mandi karena yakin semua anggota tubuhnya terkena basuhan air, maka hendaknya ia bergeser atau berpindah tempat ke arah kanan, kiri, depan, ataupun belakang lalu membasuh kedua kakinya yang dimulai dari kaki kanan lalu kaki kiri. Namun boleh juga kedua kaki itu didahulukan dari menuangkan air keseluruh tubuh yakni berbarengan dengan wudhu.      
Mencuci Kedua Kaki
            Sudah jelas dari hadits Maimunnah, bahwa Rasulullah mengakhirkan kedua kakinya hingga beliau menyempurnakan mandinya. Dan pada lafadz yang diriwayatkan oleh imam Bukhari (260), “...dan ketika selesai dari mandinya, beliau mencuci kedua kakinya.” Adapun hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, maka hanya menunjukkan bahwa Rasulullah berwudhu sebelum mandi.
            Para ulama dalam mengomentari kedua hadits ini terbagi menjadi empat kelompok:
1.      Dianjurkan mengakhirkan mencuci kedua kaki pada saat mandi, dalilnya adalah hadits dari Maimunnah radhiallahu ‘anha dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.
2.      Sebelum mandi dianjurkan untuk berwudhu secara sempurna, dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallahu ‘anha. Karena hadits Aisyah memberitakan tentang mandi yang biasa dilakukan oleh Nabi, berbeda dengan hadits Maimunnah yang memberitakan tentang satu cara mandi beliau. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Ahmad.
3.      Pendapat lain dari Imam Ahmad adalah seseorang boleh memilih antara mendahulukan mencuci kedua kaki bersamaan dengan wudhu atau mengakhirkannya.
4.      Pendapat lain dari Imam Malik adalah apabila seseorang mandi di tempat yang tidak bersih lebih baik dia mengakhirkan mencuci kedua kakinya. Dan jika dia mandi di tempat yang bersih lebih baik dia mendahulukannya bersamaan dengan wudhu.
            Penulis kitab Shahih Fiqih Sunnah mengatakan: Pendapat yang terakhir adalah pendapat yang lebih rajih (kuat).[8]    
Mengeringkan Anggota Badan Setelah Mandi.
            Pada Hadits yang diriwayatkan dari Maimunnah tentang sifat mandi Nabi , telah dijelaskan, kemudian aku memberi sepotong kain kepada beliau (dalam riwayat lain disebutkan (sapu tangan), namun beliau tidak mengambilnya, beliau kemudian menyeka dengan kedua tangannya.
            Hadits ini menjadi dasar dimakhruhkannya menyeka air bekas mandi dengan handuk, walaupun sebenarnya tidak ada hujjah dalam hadits tersebut karena beberapa hal:
1.      Hal ini adalah kejadian spontanitas yang mengandung berbagai kemungkinan, bisa jadi ada hal lain yang tidak berkaitan dengan hukum makhruhnya menggunakan handuk.
2.      Dalam hadits  ini ada dalil yang menunjukkan kebiasaan Nabi menggunakan handuk, jika tidak, maka tidak mungkin Maimunnah menawarkan handuk tersebut.
3.      Apa yang dilakukan Nabi tidak menunjukkan makhruhnya menggunakan handuk karena keduanya mempunyai fungsi dan tujuan yang sama; yaitu membersihkan.
Dengan demikian hal ini menunjukkan diperbolehkannya menggunakan handuk.[9]
Air yang Digunakan untuk Mandi Janabat
            Tidak ada ketentuan khusus tentang kadar air yang digunakan untuk mandi janabat, sebagaimana juga tidak ada ketentuan kadar air yang digunakan untuk berwudhu. Namun teladan kesederhanaan dari Rasulullah terkait kadar air yang digunanakan untuk mandi adalah satu sho’ sementara untuk wudhu adalah satu mud.
            Nash-nash syar’i telah menjelaskan secara detail bagaimana tata cara mandi janabat, namun penjelasan tata cara tersebut tidak disertai penjelasana terkait kadar air yang digunakan, baik penjelasan tersebut adalah penjelasan yang bersifat mengikat maupun sekedar anjuran saja. Sebagaimana perintah mandi janabat pada al-Qur’an yang berbunyi:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنتُم سُكَارَى حَتَّى تَعلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلاَجُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلِ حَتَّى تَغتَسِلُوا} النساء: 43
Artinya: “ Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati untuk jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub).” [QS. An-Nisa’ : 43]
            Pada ayat ini tidak menjelaskan kadar air yang dibutuhkan untuk mandi janabat. Begitu pula pada ayat lain dalam al-Qur’an. Namun pada hadits riwayat Ahmad menjelaskan:
Dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah bersabda: “Wudhu cukup dengan satu mud (takaran dengan segenggam kedua telapak tangan) dan untuk mandi janabat adalah satu sho’ (empat mud). Lalu ada seorang laki-laki berkata: hal itu tidak cukup bagiku. Jabir berkata: Rasulullah saja sudah cukup.” [HR. Ahmad]
            Ukuran sho’ dan mud adalah ukuran volume. Satu sho’ setara dengan satu mud, sementara satu mud setara dengan 4/3 Rithl (pendapat Hanafiyah: 2 Rithl) . Jika dikonversikan dengan ukuran zaman sekarang, maka satu sho’ setara dengan 2.748 liter atau 2.172 gram. Sementara satu mud setara dengan 0.678 liter atau 543 gram.[10]
            Dianjurkan untuk tidak berlebih dalam menggunakan air. Karena sedikitnya air yang digunakan untuk ibadah, baik dalam wudhu ataupun mandi, menjadi tanda faqihnya seseorang terhadap agamanya. Jika kita lihat sedikitnya air yang digunakan Nabi  untuk mandi sungguh sangat tidak sebanding dengan ukuran air yang banyak digunakan kaum muslimin saat ini. Diriwayatkan oleh Anas, “Nabi  biasa mandi dengan air sebanyak 1 sho’ sampai 5 mud air, dan biasa berwudhu hanya dengan satu mud.” (HR. al-Bukhari, Muslim, abu Dawud, Ahmad, al-Darimi dengan lafadz milik al-Bukhari).[11]
Membongkar Sanggul
            Para Ulama mempunyai berbagai pendapat yang hampir sama dengan masalah ini. Ulama Hanafi mengatakan cukup dengan hanya membasuh pangkal sanggul atau rambut wanita yang dipintal. Langkah ini adalah untuk menghindari kesukaran. Bagi rambut yang terurai, maka wajib dibasuh keseluruhannya. Jika bagian pangkal rambut tidak terkena air karena pintalan sanggul itu terlalu rapat atau rambut terlalu banyak, ataupun sanggul tersebut terlalu rapi, maka menurut pendapat yang ashah rambut tersebut wajib diurai terlebih dahulu. Namun sekiranya membasuh kepala dapat mengakibatkan kemudhorotan, maka tidak perlu membasuhnya. Dan ada pendapat juga yang mengatakan bahwa seseorang itu hanya perlu menyapunya saja.
            Demikian juga pendapat ulama Maliki, orang yang rambutnya disanggul tidak perlu dibongkar sanggulnya, jika memang sanggulnya tidak menghalangi air sampai ke bagian kulit kepala ataupun kedalam rambutnya.
            Ulama Syafi’i berpendapat, jika air tidak dapat sampai ke bagian dalam rambut kecuali dengan mengurainya, maka ia wajib diurai. Namun ada kemaafan jika air tidak sampai ke bagian dalam rambut yang ikal.
            Imam Ahmad membedakan antara haid dan junub. Jika mandi wajib itu disebabkan haid atau nifas, maka sanggulnya perlu diurai. Namun kalau mandinya sebab junub, maka tidak perlu mengurai rambutnya, seandainya air mandinya sampai ke pangkal rambut jika tidak diurai.
            Kesimpulannya adalah, empat madzhab sependapat bahwa mengurai sanggul rambut tidaklah wajib, sekiranya air mandi dapat sampai ke dasar rambut. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Salamah.[12]
Hikmah Mandi Janabat
            Mandi Janabat  memiliki sejumlah manfaat baik secara kesehatan maupun rohani. Terdapat tiga hikmah mandi janabat sebagaimana dijelaskan dalam Fiqih Manhaji[13]:
1.      Mendapat pahala.
Mandi janabat memiliki nilai ibadah yang tentu saja berpahala. Bahkan mandi janabat ini berpahala besar karena Rosulullah shallahu ‘alaihi wasallam mensabdakan: “Bersuci merupakan bagian dari iman” (HR.Muslim).
2.      Bersih dan sehat.
3.      Lebih bersemangat.
Dengan mandi, tubuh menjadi segar dan lebih bersemangat. Mandi terbukti mampu mengusir kepenatan dan rasa malas. Khususnya mandi junub setelah seseorang keluar cukup banyak energi.
            Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:
Pada Mandi Janabat terdapat dua hadits yang menjelaskan tata cara mandi janabat secara berbeda. Namun pada hakikatnya kedua hadits tersebut saling berhubungan, hadits dari Maimunnah radhiallahu ‘anha  adalah sebagai penjelas dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha. Dari tata cara yang telah dijelaskan dalam hadits, maka kita boleh memilih salah dari keduanya, karena menjalankan tata cara yang terdapat pada salah satu hadits hukumnya adalah sunnah.
            Adapun kadar air yang digunakan untuk mandi janabat, para ulama berbeda pendapat. Karena tidak adanya ketentun khusus yang menjelaskan kadar air yang digunakan, maka dianjurkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam penggunaan air sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah .
            Mandi janabat diwajibkan bagi siapa saja yang telah berhadats besar seperti orang yang habis melakukan hubungan suami istri. Karena mandi janabat dapat membuat orang yang tadinya terhalang melakukan ibadah yang sifatnya taqarrub kepada Allah menjadi tidak terhalang. Mandi janabat juga memiliki banyak manfaat diantaranya adalah membuat seseorang menjadi bersih, sehat, dan lebih bersemangat.
            Alhamdulillah atas karunia yang telah Ia berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sepenuhnya, penulis menyadari bahwa tulisannya masih jauh dari kata sempurna, namun semoga dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Untuk itu penulis berharap agar penulis-penulis selanjutnya mampu mengkaji materi serupa dengan lebih mendalam.


[1] Al-Bukhari, hadits no. 248. Al-Muslim, hadits no. 35.
[2] Al-Bukhari, hadits no. 257. Al-Muslim, hadits no. 37.
[3] Abdurrahman bin Sholih Ali Basam, Taisirul ‘Alaam Syarh Umdatul Ahkam. (Riyadh: Maktabah al-‘arobiyah as-Su’udiyah, 2007), hlm. 83.
[4] Ibid, hlm. 85.
[5] Abdullah Alu Basam, Fiqih Hadits Bukhari-Muslim. Terj. Umar Mujtahid. (Jakarta: Ummul Qura, 2013), hlm. 104.
[6] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. Terj. Asep Sobari, dkk. (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2013), hlm. 83.  
[7] Abdullah Alu Basam, loc.cit.
[8] Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fiqih Sunnah. Terj. Bangun Sarwo Aji Wibowo. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2015), hlm. 264-265.
[9] Ibid, hlm. 272.
[10] http://irtaqi.net diakses pada Ahad 24 Februari 2019 pukul 13:41
[11] www.voa-islam.com diakses pada Senin 25 Februari 2019 pukul 22:42
[12] Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu. (Jakarta: Gema Insani, 2010), hlm. 435-436.
[13] Musthofa al-Khin-Musthofa al-Bugho, Fiqih Manhaji. (Damaskus: Darul Qolam, 1992), hlm. 73.

Resensi Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maraam


RESENSI KITAB
Subulus Salam Syarh Bulughul Maroom
Oleh : Hanifah
Nama Kitab     : Subulu As-Salaam Syarh Bulughul Maroom.
Penulis             : Muhammad bin Ismail bin Sholah bin Muhammad al-Husni al-Kahlani
                          As-Shon’ani.
Nama popoler : Imam as-Shon’ani.
Penerbit           : Maktabah al-Ma’arif Linnasyri wa at-Tauzii’.
Tahun Terbit    : 1427 hijriyah- 2006 masehi.
Jilid                 : 1 (634 hal.)

            Kitab Subulu as-Salam adalah kitab syarh hadits dari kitab Bulughul Maroom karya Ibnu Hajar al-‘Asqolani. Kitab ini ditulis oleh seorang seorang imam yang bernama Muhammad bin Ismail bin Sholah bin Muhammad al-Husni al-Kahlani as-Shon’ani (1182 H).

Biografi Penulis Kitab Subulu as-Salaam
            Nama beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Sholah al-Amir al-Kahlani as-Shon’ani. Ia dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian ia pindah bersama ayahnya ke kota Shan’a ibukota Yaman. Ia menimba ilmu dari ulama yang ada di kota Shan’a yang kemudian beliau melakukan rihlah ilmiyah ke kota Mekkah dan membaca hadits dihadapan para ulama besar yang ada di Mekkah dan Madinah. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga ia mengalahkan teman-teman seangkatannya. Ia menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya. Ia mendapat ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan menda’wahkannya secara terang-terangan pada masa-masa penuh fitnah dari orang yang sezaman dengan beliau, Allah subhanahu ta’ala telah menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.
            Khalifah al-Manshur yang merupakan penguasa Yaman mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khuthbah di Masjid Jami’ Shan’a. Ia terus-menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa, serta mengarang. Ia tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika ia berada dalam kebenaran dan ia tidak mempedulikan ujian dalam menjalankan kebenaran, sebagaimana telah menimpa orang-orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah, ia lebih mendahulukan keridhoan Allah diatas keridhoan manusia.
            Sangat banyak orang-orang yang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang-orang khusus maupun masyarakat umum, mereka membaca dihadapan beliau berbagai kitab-kitab hadits dan mengamalkan ijtihad-ijtihad beliau serta menampakkannya kepada orang lain.
            Beliau wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1882 H ketika umur beliau 123 tahun. Semoga Allah merahmati beliau. Beliau adalah orang yang produktif menulis kitab, diantara karya-karya beliau :
¨      Subulu as-Salam
¨      Taudhih al-Afkar
¨      Min Hatul Ghafar
¨      Syarhu at-Tanfih fii Ulum al-Hadits
Beliau juga memiliki tulisan-tulisan lain, yang ditulis secara terpisah. Jika dikumpulkan akan menjadi berjilid-jilid.
            Kitab Subulus Salaam atau lengkapnya Subulus Salaam Syarh Bulughul Maram min Jam’i Adillatil Ahkam adalah kitab fiqih yang disusun oleh Imam As-Shon’ani  yang merupakan kitab penjelasan dari sebuah kitab tematik yang khusus menghimpun hadits-hadits bertemakan Fiqih Islam karya Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Lebih tepatnya kitab Subulus Salam ini merupakan kitab ringkasan dari kitab al-Badru at-Tamam yang juga merupakan salah satu kitab Syarh Bulughul Maram yang disusun oleh Qadhi Husain bin Muhammad al-Maghribi.
            Selain dikenal sebagai kitab syarh Bulughul Maram yang  paling populer, kitab ini juga merupakan salah satu kitab fiqih lintas madzhab.Hal ini dikarenakan Imam as-Shan’ani tidak mengkuti madzhab fiqih tertentu secara ekslusif, ia juga menghindari dari sikap ‘ashobiyah atau fanatik, sehingga kitab tidak memihak dengan satu madzhab.
            Adapun ciri-ciri kitab Subulus Salam adalah kitab hadits tematik yang khusus menghimpun hadits-hadits bertemakan fiqih islam, memulai judul bahasan dengan sebutan kitab, setiap kitab (judul bahasan) menjelaskan makna bab tersebut tetapi terkadang tidak dijelaskan. Bentuk pensyarahan pada kitab Bulughul Maram ini adalah: Menjelaskan segala aspek dalam kitab tersebut. Dimulai dengan menjelaskan judul kitab dan bab, kemudian dijelaskan perawi. Setelah selesai menjelaskan perawi, penulis berpindah menjelaskan matan hadits. Matan hadits yang beliau jelaskan sangat rinci sekali. Karena beliau menjelaskan secara lengkap dengan penggalan-penggalan kalimat yang menarik, sehingga kitab subulus salam terbagi menjadi 4 jilid.
            Sebagai salah satu kitab yang cukup inovatif yang bercorak tematis, kitab Bulughul Maram banyak mendapat apresiasi dari para ulama. Diantara ulama yang mensyarh kitab tersebut adalah :
1.      Al-Badr at-Tamam, karya qadhi Husain al-Maghribi
2.      Subulus Salam, karya imam as-Shan’ani
3.      Ibanatul Ahkam, karya syeikh Abu Abdullah bin Abdus Salam Allusy
4.      Tuhfatul Ayyam fii Fawaid Bulughil Maram, karya syeikh Samy bin Abdullah
5.      Minhatul ‘Allam, karya syeikh Shalih Fauzan
6.      Syarh Bulughul Maram, karya syeikh ‘Attiyah Muhammad Salim
Kitab Subulu as-Salaam menjelaskan semua hadits yang ada di dalamnya dengan jelas, serta mendetailkan biografi imam-imam hadits yang meriwayatkannya. Dengan menjelaskan biografi setiap imam hadits akan memudahkan pembaca untuk mengenal imam-imam hadits tersebut.
Diantara imam-imam hadits yang meriwayatkan di dalamnya adalah imam Ahmad, imam Bukhori, imam Muslim, imam Abi Dawud, imam at-Tirmidzi, imam an-Nasaii, dan Ibnu Majah.
            Pada jilid pertama terbagi menjadi dua pembahasan, diantaranya adalah kitab thoharoh dan kitab sholat. Disertai dengan rincian-rincian bab kecil dari setiap judul.
1.      Kitab Thoharoh
1)      Bab Miyah terdapat 13 hadits
2)      Bab Aniyah terdapat 8 hadits
3)      Bab Izalatun Najis terdapat 7 hadits
4)      Bab Wudhu’ terdapat 25 hadits
5)      Bab Mashul khuf  terdapat 9 hadits
6)      Bab Nawaqidhul Wudhu’ terdapat 17 hadits
7)      Bab Adab membuang hajat terdapat 21 hadits
8)      Bab Mandi Janabah terdapat 17 hadits
9)      Bab Tayamum terdapat 12 hadits
10)  Bab Haid terdapat 12 hadits
2.      Kitab Sholat
1)      Bab Mawaqith terdapat 25 hadits
2)      Bab Adzan terdapat 27 hadits
3)      Bab Syarat Sholat terdapat 22 hadits
4)      Bab Arah sholat terdapat 9 hadits
5)      Bab Khusyu’ dalam sholat terdapat 12 hadits
6)      Bab Masjid dan larangan menjadikan kuburan sebagai masjid terdapat 16 hadits
7)      Bab Sifat sholat terdapat 61 hadits
8)      Bab Sujud tilawah terdapat 19 hadits

Semoga Bermanfaat...